SELAYAR,MEDIATA.ID– Seperti diberitakan sebelumnya bahwa PHBI Kec. Pasimasunggu telah memberi keprcayaan dan menobatkan Adam Yordan untuk menjadi khatib Idul Fitri 1 Syawal 1442 H tanggal (13 /4/2021) Masehi di Lapangan Kramat Benteng Jampea.
Dalam penyampaiannya, Adam Yordan mengangkat sebuah kisah dari Raja Iskandar Sulkarnain yang dikutip dari Buku Tasyauf Modern Karya Buya Hamka.
Dengan pemaparan yang begitu gamblan dalam mimik dan gaya bahasa yang cukup lugas, membuat para jamaah tak merasakan panasnya terik mata hari pagi kala itu.
Bahkan ada seorang ibu yang anaknya menangis tat kala hotbah sedang berlangsung, rela menyusui anaknya dari balik mukenya lantaran senangnya mendengar Hotbah dari Seorang Adam Yordan.
Bukan cuma itu, banyak pula yang menelpon ke Panitia untuk meminta rekamannya.
Lalu siapakah Adam Yordan sebenarnya? Berikut penelusuran Muhsar Wartawan Media Online (mediata.id) ini seperti diiturakan Tantenya St. Syamsiah dikediamannya Benteng Jampea, Rabu (19/5-/2021).
Adam Yordan atau yang sering dipanggil Dadang ini ,Lahir di Benteng Jampea 18 September 1998 adalah anak pertama dari 3 bersaudara se Ayah se Ibu dari pasangan Muh. Maulid dengan Rosmawati.
Sejak Kecil ia dipelihara oleh Neneknya ( Sima’ ) karena Ayah dan Ibunya berpisah ( cerai ) sejak adik bungsunya masih balita.
Dadang di usia Sekolah Dasar, tak jarang ia disuruh neneknya pergi kepasar jual ikan atau pisang hasil dari kebun Neneknya, Nanti pulang dari pasar barulah ke Sekolah .
Ia memang dikenal anak yang berbhakti dan patuh pada orang tua yang ditanamkan pada dirinya sejak kecil dan bahkan ia dikenal anak yang pintar di Sekolahnya.
Setelah tamat di SD. Inp. Benteng Jampea, Adam Yordan langsung masuk pesantren Darussalam Marege Asuhan KH. Anas Salim LC. ( Alm ).
Karena ia dikenal patuh dan taat pada aturan di pesantren serta pintar , maka dirinya sangat di sayang oleh pak K.H. Anas yang pada ahirnya ia diberi amanah untuk melanjutkan pendidikan pada Pesantren Darul Rahman di Jakarta Selatan.
Kesempatan ini tidak disia siakan bahkan Mahasiswa semester 3 di Universitas Al Ayubi ini telah mendapat kepercayaan utk mengajar di Pesantren Daru Rahman tempatnya menimba Ilmu sebelum lanjut ke Perguruan Tinggi.
Dengan hanya mengandalkan biaya dari neneknya hasil dari kebun Kelapa ,serta sesekali juga dari ayahnya yang berprofesi sebagai petani, dirinya bersyukur bisa melanjutkan pendidikan hingga keperguruan tinggi, bahkan kini ia memboyong adiknya ke Jakarta untuk menimba Ilmu di Pesantren dimana ia mengajar.
Disamping mengajar dan Kuliah. Dirinya juga tetap memperdalam Ilmu Agamanya melalui Kiyai dengan memanfaatkan waktu dimalam hari.
Bahkan untuk tambahan penghasilan dari gajinya 900.000/ bulan sebagai tenaga pengajar di Pesantren, Ia juga terkadang mendapatkan imbalan seadanya karena menghadiri undangan ber Ceramah tutup St. Syamsiah dengan raut wajah yang terlihat penuh haru.
(Penulis : Muhsar)

Comment