
MEDIATA.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus berupaya menarik minat investasi dari pihak swasta, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk masuk ke daerah.
Langkah ini dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan kawasan industri dan peningkatan nilai tambah dari komoditas unggulan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani, mengatakan bahwa strategi mendorong investasi ke daerah dilakukan melalui berbagai skema, mulai dari pembangunan infrastruktur, pengembangan sektor hulu hingga hilirisasi industri.
“Ya, skema investasi. Jadi, investasi itu kan banyak, ada investasi pembangunan infrastruktur, ada hulunya, ada hilirisasi. Nah, di Sulsel itu harus didorong pertumbuhan kawasan industri,” ujar Asrul Sani, Jumat (3/10/2025).
Menurutnya, provinsi yang memiliki tingkat pertumbuhan investasi tinggi umumnya ditopang oleh banyaknya kawasan industri yang berkembang pesat.
“Di beberapa provinsi yang tinggi pertumbuhan investasinya, mendorong pertumbuhan ekonomi memang kawasan industrinya banyak. Termasuk misalnya Sulawesi Tengah, itu kawasan industrinya beberapa,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan kawasan industri yang terencana dengan baik menjadi daya tarik utama bagi investor, terutama investor asing. Lokasi yang jelas, infrastruktur pendukung seperti jalan, listrik, air baku, serta kepastian hukum menjadi faktor penting dalam menarik investasi.
“Selama ini kendala investasi memang di lahan. Lahan tidak siap. Kalau investor asing itu maunya ada kepastian, ada kepastian hukumnya, kemudian diberikan insentif, lahannya harus tersedia,” terangnya.
Asrul juga mengungkapkan, banyak investor yang tertarik untuk bermitra dengan pelaku usaha lokal. Namun, untuk mendorong nilai tambah ekonomi, pemerintah daerah akan fokus menarik investasi di sektor hilirisasi yang saat ini masih relatif kecil kontribusinya.
“Dari data pertumbuhan investasi selama tahun ini, sektor sekunder untuk hilirisasi baru sekitar 20 persen, jauh lebih kecil dibanding sektor tersier atau jasa yang mencapai 57 persen,” jelasnya.
Ia menyebutkan bahwa fokus hilirisasi akan diarahkan pada komoditas-komoditas unggulan Sulsel yang masuk dalam prioritas nasional.
Di antaranya rumput laut, di mana Sulsel menempati peringkat pertama nasional dalam produksi, serta komoditas perikanan seperti tuna, tongkol, cakalang (peringkat ketiga), dan rajungan (peringkat keempat).
“Pokoknya kita tidak keluar dari lima besar. Itu menjadi potensi besar untuk mendapatkan nilai tambah dan didorong secara nasional. Investasi di sektor hilirisasi ini penting agar produk-produk ekspor memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” pungkasnya.

Comment