Dihadapan Milenial Calon Bidan, Bob Wahyudin Paparkan Asfiksia Neonatus di Poltekkes Makassar

MAKASSAR, MEDIATA.id— Dokter Spesialis Anak Konsultan Paru/Nafas, Dr. dr. Bob Wahyudin, Sp.A(K) diundang menjadi pembicara dalam kegiatan Seminar Ilmiah Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Makassar, di Gedung Poltekkes Makassar, Jumat 9 November 2018.

Kegiatan ini mengangkat tema ‘Improve The Quality of Mother And Child Health With Early Treatment of Milenial Neonatal Emergencies’.

Turut diundang dalam kegiatan tersebut dokter spesialis kandungan yang populer di Makassar, Dr. Dr. Maisuri T Chalid, Sp.OG (K). Mahasiswi jurusan dan dosen turut serta menyemarakkan kegiatan tersebut.

Asfiksia Neonatus adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang tidak segera bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan. Bahasa lainnya, Asfiksia Neonatus adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.

“Pada ibu hamil, ada kondisi tertentu dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah uteroplasente. Ini menyebabkan pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam rahim ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir,” kata Dokter spesialis anak, Dr. dr. Bob Wahyudin, Sp.A(K), usai kegiatan.

Menurutnya, materi Asfiksia Neonatus sangat penting diketahui dan dipahami calon bidan. Sebab, bila sudah terkun di dunia praktik atau kerja, bila menemukan kondisi tersebut bisa diambil tindakan penanganan. Secara garis besar, ada 3 faktor diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, yaitu adalah faktor ibu, tali pusat calon bayi dan bayi itu sendiri.

“Faktor Ibunya seperti preeklampsia dan eklampsi, pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta), partus lama atau partus macet, demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV) dan kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan),” urainya.

Dia menambahkan, faktor tali pusat bisa karena lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat dan prolapsus tali pusat. Faktor bayi bisa karena prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), persalinan dengan tindakan seperti sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksksi forsep. Kelainan bawaan dan air ketuban bercmpur mekonium (warna kehijauan).

Usai kegiatan, dilakukan pose sebagai bentuk kampanyekan Gerakan Masyarakat (Germas) Hidup Sehat l. Ini adalah progam yang mengajak masyarakat hidup sehat dengan melakukan aktifitas fisik, makan buah sayur dan cek kesehatan secara rutin minimal enam bulan sekali.

Tujuannya yaitu untuk mencegah berbagai penyakit menular maupun penyakit tidak menular.

Germas bisa dilakukan dengan hal sederhana seperti berolahraga minimal 30 menit setiap hari, mengonsumsi sayur dan buah setiap hari dan cek kesehatan. (*)

Comment