Pandemi tak Boleh Halangi Hak Anak Imunsasi

MAKASSAR, MEDIATA.ID Pekan Imunisasi Dunia dirayakan dengan penuh suka cita oleh seluruh masyarakat dunia setiap akhir April setiap tahunnya. Pandemi Covid-19 yang dirasakan seluruh masyarakat juga tidak boleh jadi penghalang untuk memberikan hak anak atas imunisasi.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini masih terdapat sekitar 20 juta anak di seluruh dunia yang belum mendapatkan imunisasi atau mendapatkan imunisasi yang tidak lengkap. Akibatnya, beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian, yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi, kembali muncul di negara maju dan berkembang. Penyakit itu termasuk campak, pertusis, difteri, dan polio.

Antara tahun 1990 dan 2015, angka kematian anak di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara turun sebesar 64%. Setiap tahun, penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi ini menyebabkan 1,5 juta anak mengalami kematian yang tidak perlu terjadi.

Menurut data pemerintah, proporsi anak satu tahun yang menerima imunisasi lengkap telah naik dalam tahun-tahun terakhir, yaitu dari 59 persen pada 2007 ke 65 persen pada tahun 2017.

Pada awal pandemi COVID19 cakupan imunisasi rutin di Sulsel turut terdampak terlihat dari trend cakupan imunisasi yang mengalami penurunan tajam terutama di bulan April – Mei 2020. Hingga akhir 2020, ada sekitar 23.000 anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar seperti DPT-HB-Hib 3.

Dengan adanya penurunan cakupan imunisasi pada tahun 2020 ini dibutuhkan strategi yang tepat seperti pelacakan anak yang belum diimunisasi (defaulter tracking) untuk menjangkau dan memberikan hak imunisasi setiap anak di Sulsel.

Dalam rangka perayaan Pekan Imunisasi Dunia (PID) tahun 2021, pelaksanaan defaulter tracking untuk melengkapi imunisasi anak-anak di Sulsel dicontohkan di kab. Takalar yang dilaksanakan serentak di 17 puskesmas.

Anak-anak tersebut akhirnya berhasil diimunisasi serentak di semua Posyandu. Kabupaten Takalar merupakan salah satu dari 5 kabupaten dengan cakupan imunisasi tinggi. Diharapkan, apa yang dilakukan oleh kab. Takalar dapat diikuti oleh kabupaten lainnya.

“Mengingat Imunisasi merupakan upaya untuk memberikan kekebalan spesifik terhadap Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I) pada anak,  maka imunisasi tidak boleh  dihentikan, walau di tengah  wabah Covid-19, dengan  memperhatikan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi dan  jaga jarak aman 1-2 M,” kata Kepala Seksi Surveilens dan Imunisasi Dinkes Provinsi Sulsel, Agussalim Makka di puncak peringatan Pekan Imunisasi Dunia tahun 2021 di Takalar.

“Imunisasi anak sangat essensial sehingga tidak dapat diabaikan, anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi, semuanya dapat diimunisasi saat ini, baik di Puskesmas maupun Posyandu,”  imbuh dia.

Sejak Indonesia melaporkan kasus COVID-19 pertama pada bulan Maret 2020, cakupan imunisasi rutin dalam rangka pencegahan penyakit anak seperti campak, rubella, dan difteri semakin menurun bahkan hanya mencapai 35%. Situasi ini menghadapkan kita termasuk seluruh masyarakat Sulsel pada ancaman wabah yang mungkin akan sulit dikendalikan.

Agussalim menyebut berdasarkan analisa situasi tahun 2019 -2020, menunjukan masih ada kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang memiliki cakupan IDL dan imunisasi lanjutan  rendah yang berisiko memicu terjadinya wabah.

Dia mengingatkan efek penundaan pelayanan imunisasi akan memperbesar resiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) PD3I.

“Wabah atau KLB PD3I yang terjadi pada masa pandemi covid-19 akan menjadi beban ganda bagi pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat,” kata dia.

Seturut dengan Agussalim, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar Rahmawati mengakui masa Pandemi berefek pada aktivitas dan pelayanan imunisasi di daerahnya.

Meski begitu, secara umum, efek pandemi ini tidak berdampak besar karena telah melewati target yang diharapkan. Pada Tahun 2019 persentase desa/kelurahan di Kabupaten Takalar yang melaksanakan program imunisasi dasar lengkap adalah 104,2%  melewati target nasional 80% dan menurun pada tahun 2020 sebesar 94,0%  dengan target nasional 92,9%.

“Bila dilakukan secara rutin maka sweeping tidak perlu dilakukan lagi. Anak-anak kita kedepannya kita harapkan dapat terhindar dari berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi,” ucapnya.

“Terima kasih kepada bapak ibu orangtua yang telah hadir membawa anak-anak ke Posyandu untuk mendapatkan pelayanan dasar seperti imunisasi rutin. Bapak ibu yang memiliki anak balita ayo kita sama-sama memastikan semua anak status gizinya baik dan imunisasinya lengkap sehingga tumbuh kembang anak akan optimal,” tambahnya. (rls)

Comment