Impian Anak pa’ Kampoeng Ryan Latief, Indonesia Produsen Nikel Terbesar Dunia

MAKASSAR, MEDIATA.ID — Lalu Indonesia dapat apa? Semua perusahaan tambang milik asing, kecuali PT. Antam.

Kalimat di atas jadi mukaddimah sorotan seorang Ryan Latief mentafairkan mimpinya tentang masa depan Indonesia dalam mengelola aset tanah air, berupa sumber daya alam di bidang pertambangan.

Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki kekayaan alam. Bahkan beberapa kekayaan alam Indonesia tak dimiliki oleh negara lain. Seperti emas, gas alam, batubara hingga lautan.

Kekayaan alam tersebut tersebar di berbagai daerah Indonesia.

Jika seluruh kekayaan alam dicairkan dalam bentuk uang, Indonesia diperkirakan memiliki aset hingga mencapai ratusan ribu triliun rupiah.

“Itu perkiraan nilai cadangan terbukti dari minyak, gas, batubara, tembaga, emas, nikel, perak dan seterusnya dengan asumsi tidak ditemukan cadangan baru lagi. Ini yang ketemu saja di perut bumi, nilainya saat ini sekitar Rp 200 ribu triliun,” ungkap pengamat energi, Kurtubi.

Ryan Latief mengatakan, mengapa bukan bangsa sendiri yang mengelolanya, menambang sendiri produksi sendiri dan jual sendiri.

Lalu untuk teknologi kita Kombinasi dengan yang memiliki teknologi terbarukan.

“Untuk Founders di kolaborasikan dengan perbankan Indonesia, perbankan asing tentunya dengan jaminan dari pemerintah melalui seleksi yang ketat,” katanya.

“Intinya tongkat komando itu tetaplah merah putih,” singkatnya.

Menurutnya, kekayaan alam bangsa ini habis dikeruk. Bangsa Indonesia dapat debunya dan buruh kasarnya saja serta Pajak.

“berapa persentase keuntungan yang dinikmati bangsa ini??,” Tanya Wapres LiRA Indonesia ini.

“Ingat kita bukan anti terhadap asing tetapi dibutuhkan kolaborasi kerja sama yang sehat yang menguntungkan bangsa ini lebih banyak, bukan hanya diatas kertas Indonesia sebagai pemilik kekayaan alam, maka wajar leuntungan dominan untuk NKRI,” tambah mantan Ketua Pertina Sulsel.

Dia menurutkan, jangan hanya selalu berbangga terbukanya Lapangan Kerja. Nah apa bedanya zaman penjajahan. Bahasa kasarnya pekerja kerasnya justru hanya di peroleh anak bangsa Indonesia. Hasil kekayaan alam didapatkan semuanya oleh asing. Inilah yang dikatakan Penjajahan Ekonomi yang tidak disadari.

“Saya yakin Bangsa ini sudah memiliki putra putri terbaik yang bisa mengelola sumber daya alamnya sendiri. Hanya saja bangsa ini tersandera dgn ketidak percayaan diri sendiri karena bangsa ini dalam kekuasaan Asing,” kata Ryan Latif nuga Ketua Kimia Energi Pertambangan-KSPSI Sulsel. (*)

Comment