Penulis: Ano Suparno
(Jurnalis & Mantan Ketua Panpel PSM )
Daun mulai berguguran, pepohonan tak kuasa lagi menahan kehendak daun untuk terbang liar lalu jatuh ke tanah. Pepatah daun jatuh tak jauh dari tuannya tak ada artinya lagi. Tepi jalan yang masih dijejali pohon dipenuhi daun yang telah mengering. Krekkkkk, begitu bunyinya saat kuinjakan sepatuku pada daun daun yang gemulai. Lalu kemudian sebaran sisa daun itu, diterbangkan oleh angin, hilang entah ke mana.
Tetapi kuceritakan ini bukan musim semi laiknya di benua Eropa dan Asia lainnya semisal Jepang, China dan daratan semenanjung Korea. Daun mulai berguguran di kota ku sebab kala itu, telah memasuki musim baraq, istilah orang tua kami yang masih ngiang dalam telinga “musim baraq’, di mana kencangnya angin mulai terasa tanpa disertai hujan, sementara pada malam hari cuaca begitu menusuk hingga ke rongga tubuh. Orang Bugis – Makassar, angin kencang itu pula “mengusir” hujan dari sebagian daratan Sulsel.
Sore hari, air di Losari mengibas ngibaskan lidahnya, menyentuh bibir pantai, hingga ke tepi menyapu gundukan pasir yang dibuat oleh anak anak pantai. Lalu tak jauh dari situ, sehamparan pasir yang tak berair, sekelompok bocah menendang bola plastik, dialah Ramang – Ramang kecil, Rony- Rony kecil berlarian mengejar bola.
Dia terus berlari, menendang, menggocek bola plastik. Ia tak peduli jika tiga lensa kamera sedang membidik mereka, merekam aktivitas mereka menendang bola hingga gol. Saat matahari mulai meredup, sunset menampakkan senyumnya, seorang reporter nan jelita menghampiri Ramang kecil, menyodorkan mic, tulisan pada mic nya “ESPN sport”.
Keesokan harinya, wajah Ramang kecil ditonton oleh jutaan pasang mata di seantero negeri, seantero dunia. Beratus ratus wartawan asing bertebaran di Makassar, mereka menulik tentang Makassar, seolah bertanya “mengapa Makassar harus menjadi tuan rumah bagi dunia’?
Catatlah, kala itu Makassar belum mengenal taghline “Makassar kota dunia” Tapi itulah sepakbola. PSM dan Stadion Mattoanging nya memanggil mereka ke Makassar, bukan APBD serta slogan bertabur pamflet.
Kala itu tahun 2001, Makassar sedang berpesta menyambut para tuan, raja dan ratu dari negeri Tirai Bambu China, Negeri Ginseng Korea Selatan serta Negeri Matahari Terbit Jepang. Ketiga negara ini sedang mengirim klub sepak bola terbaik mereka, Shandong Luneng dari China, Jubilo Iwata dari Jepang, serta Suwon Bluewings Korea Selatan. Satu satunya kota di Indonesia yang pernah ditunjuk oleh AFC sebagai tuan rumah semifinal zona Asia Timur yakni Stadion Mattoanging Makassar.
Itulah salah satu sejarah sepak bola terbaik bagi Republik ini dan hingga hari ini belum pernah terulang bagi kota kota lain. Saudara saudara sekalian, khusus pada Pak Plt Gubernur Sulsel dan Pak Walikota MKS, maka dari itu lahirlah gubahanku ini., dan BACALAH.
Mattoa dan Anging. Artinya, menengok angin, disingkat Mattoanging. Di rumput stadion ini melahirkan kaki kaki pemain sepak bola yang telah mengharumkan nama Makassar. Tak usah kusebut sebut lagi, tulisan ini nanti akan kepanjangan jika kutulis semua sebab sudah tak terhitung lagi jumlah nya, sejak era Ramang lahir pemain bola handal tercipta dari rumput Mattoanging. Stadion Mattoanging dibuat tak jauh dari Losari, tempat Ramang Ramang kecil tadi bermain bola plastik.
Butuh waktu enam bulan bagi A Mattalatta, kemudian stadion ini resmi digunakan sebagai tuan rumah PON ke 4 tahun 1957. Perjuangan A.Mattalatta masa itu, akhirnya dengan bangga Makassar memiliki stadion yang tentu terbilang megah pada masanya. Banyak orang mencibir Mattalatta, bahwa usahanya akan sia sia meyakinkan pemerintah pusat melalui Sri Sultan HB IX untuk mencairkan cuan nya membangun Mattoanging. “Banyak pengurus KOI menganggap ini suatu rencana yang gila”kenang A. Mattalatta
Tapi tokoh kita itu, pejuang gigih kita yang telah dipanggil sang Khalik itu, tak peduli. Ia tetap jalan, bergeming mendirikan stadion sebagai harkat dan martabat orang orang Bugis Makassar.
Seiring waktu, saat AFC menunjuk Mattoanging sebagai tuan rumah semifinal Liga Champions Zona Asia Timur, sejumlah bagian dibenahi. Tempat duduk di VIP Utama diganti menggunakan kursi viber, ruang mandi dilengkapi air hangat, ruang ganti pakaian dirapikan agar para pemain jika usai bertanding, keluar menggunakan jas atau kemeja, rumput stadion diulek beberapa lapis. Simpelnya, telah memenuhi standar internasional, lampu jika nyala pada malam hari. tak ada shadow yang nampak atau tetap bercahaya laiknya pukul dua siang.
Begitulah gambaran singkat stadion kebanggaan kita itu, pada tahun 2001. Sementara di sudut sudut kota, kedai kopi yang menyajikan kopi tubruk, orang-orang bercerita tentang Makassar yang menjadi tuan rumah bagi warga dunia.
Teriknya matahari yang menyengat badan, tak mempan lagi rasanya. Durasi jam tak lagi kami butuhkan, jika malam hari tiba, kami sesegera mungkin ingin pagi hari lalu membuka lembaran harian Fajar dan Pedoman Rakyat. Membaca kabar terbaru kedatangan tamu-tamu dari asing itu. Lalu saya pun, mencari angle yang menarik guna kulaporkan audionya di markas siaran Radio BBC London yang nun jauh di sana.
Sebagai stringger tetap Radio BBC, Setiap hari, kureportasekan persiapan Makassar tuan rumah Liga Champions Asia. Cerita tentang kota kota ini, tentang stadion Mattoanging menari nari di layar televisi, radio dan media cetak. Saya menyempatkan melihat para pemain Jubilo Iwata sebelum sarapan.
Mereka menimbang berat badan lalu mencari menu hidangan yang sesuai seleranya. Usai sarapan, mereka kembali menimbang berat badannya. Luar biasa pikirku saat itu, beginilah cara negeri mereka memajukan dunia sepak bola di negaranya. Dan, tentu kita pun tau jika Jepang merupakan pelanggan Piala Dunia dari daratan Asia.
Malam hari, saya menyaksikan mereka berlaga di rumput Mattoanging, tak terasa 2 x 45 menit melihat mereka berlari lari mengejar bola. Keluar dari stadion, para pemain asing itu mengenakan jas hitam, celana kain, rambut tersisir rapi.
Menakjubkan, stadion tua berparas benteng itu tetap mereka hargai sebagai sebuah stadion megah seperti di negerinya sendiri, stadion klub mereka sendiri. Usai mandi air hangat, tak sebutir pun gemercik air terlihat di lantai, kering dan bersih. Begitu pula di kamar ganti pemain, tak ada sampah, kotoran dan bekas bekas sepatu.
Pernah sekali saya masuk ke ruang ganti mereka, betapa pemain-pemain ini menghargai kebersihan. Rupanya, mereka sendiri yang membersihkan lantai dan memungut sampahnya. Kenapa saya bisa masuk hingga ke dalam? “Sebab di ID Card tertulis Radio BBC London. Sepekan lamanya, stadion Mattoanging ditonton oleh warga dunia di daratan Asia dan sebagian Eropa.
Saat AC Milan dan Inter Milan hendak merenovasi kembali stadion San Siro dibutuhkan waktu sehahun lebih untuk memikirkan konsep. Mereka melibatkan masyarakat, walikota Milan dan otoritas sejarah Milan. Tujuannya hanya satu, jangan hilangkan peradaban atau ciri khas stadion bersejarah itu, San Siro. Toh jika dirubuhkan, harus ada satu ikonik tentang San Siro. Bukan sekedar meninggalkan peradaban tetapi penyambung kehidupan Milan dulu, sekarang dan akan datang. Walikota Milan meminta pada Milan dan Inter, sisakan sedikit ikonik tentang San Siro yang dibangun 1926 itu.
Berbeda dengan Stadion Mattoanging. Menyaksikan PSM berlaga. Satu pun, tak ada lagi ciri khas stadion Mattoanging yang nampak, buah tangan Andi Mattalatta itu rata dengan tanah. Dan kini, pejabat-pejabat itu silang sengketa tentang siapa yang bertanggungjawab setelah meruntuhkan stadion Mattoanging atas nama pemerintah.
Masyarakat tentu melihat satu kesatuan atas nama pemerintah, bukan pribadi. Bahwa yang merobohkan adalah pemerintah maka yang harus mendirikan kembali adalah pemerintah juga, sebuah pertanggungjawaban moral tentunya. Ingatlah, membangun stadion Mattoanging adalah perjuangan berdarah darah dari seorang Andi Mattalatta dan kawan-kawan kala itu. Tentu nya hanya satu, adalah sebagai supremasi harga diri Sulawesi Selatan.

Penulis: Ano Suparno
Comment