MEDIATA.ID — Harga emas dunia diperkirakan masih bergerak volatil pada perdagangan pekan depan, seiring potensi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang memberi tekanan pada pasar komoditas.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai harga emas berpeluang mengalami koreksi dengan menguji level support pertama di kisaran USD4.543 per troy ons.
“Dengan kondisi tersebut, harga emas berpotensi turun hingga sekitar Rp2.827.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).
Apabila tekanan berlanjut, ia memproyeksikan harga emas dapat menguji support berikutnya di USD4.358 per troy ons. Level ini berpotensi mendorong harga emas batangan turun ke kisaran Rp2.780.000 per gram.
“Jika koreksi terjadi lebih dalam, harga emas kemungkinan bergerak di bawah Rp2,8 juta per gram, mendekati Rp2.780.000,” katanya.
Meski demikian, peluang penguatan harga tetap terbuka. Untuk sisi atas, harga emas global diperkirakan menghadapi resistance di USD4.878 per troy ons, yang dapat mendorong harga ke kisaran Rp2.890.000 per gram.
Jika tren kenaikan berlanjut, resistance berikutnya berada di USD5.080 per troy ons. Pada level ini, harga emas domestik berpotensi menembus Rp3.000.000 per gram, yang menjadi ambang psikologis baru di pasar.
“Pekan depan ada potensi harga menembus Rp3 juta per gram,” ujar Ibrahim.
Ia menjelaskan, pergerakan harga emas tidak lepas dari faktor eksternal, terutama nilai tukar rupiah yang diperkirakan melemah hingga Rp17.120 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu penguatan dolar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia.
Kondisi tersebut turut mendorong kebutuhan dolar AS Indonesia meningkat, khususnya untuk impor minyak yang mencapai sekitar 800.000 hingga 900.000 barel per hari. Tekanan ini pada akhirnya memperlemah rupiah dan berdampak pada kenaikan harga emas domestik.
“Penguatan dolar dan harga minyak membuat kebutuhan devisa meningkat, sehingga memberi tekanan pada rupiah,” kata Ibrahim. (*)

Comment