Penulis : Dosen Pascasarjana Universitas Pakuan
Dr. Andi Chairunnas, M. Kom., M. Pd
Mahasiswa berada pada fase kehidupan transisi menuju kedewasaan yang sering kali menimbulkan tekanan dari berbagai arah akademik, sosial, maupun ekonomi. Tuntutan untuk berprestasi, menjaga relasi sosial, dan mempersiapkan masa depan kerap membuat mahasiswa mengalami stres, kecemasan, hingga depresi.
Menurut data WHO (2022), sekitar 1 dari 5 mahasiswa di dunia mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi atau gangguan kecemasan. Di Indonesia, survei Kemenkes dan PDSKJI (2023) menunjukkan bahwa lebih dari 20% mahasiswa mengalami gejala stres berat namun tidak mencari bantuan karena stigma atau kurangnya akses layanan psikologis.
Maka dari itu, dukungan kesehatan mental di lingkungan kampus sangat penting baik berupa dukungan sosial dari teman dan dosen, layanan konseling, maupun kebijakan kampus yang ramah terhadap kesejahteraan mahasiswa.
Mahasiswa mengalami fase transisi hidup yang intens: penyesuaian akademik, eksplorasi identitas, dan kemandirian finansial. Banyak penelitian menunjukkan prevalensi masalah mental yang meningkat pada populasi mahasiswa. Kampus sebagai lingkungan pendidikan bertanggung jawab menyediakan akses dukungan yang memadai bukan hanya untuk menyembuhkan gangguan berat, tetapi juga untuk pencegahan dan promosi kesejahteraan emosional.
Tujuan tulisan ini: (1) mengkaji landasan teori mengenai stres, coping, dan dukungan sosial; (2) menjelaskan mengapa dukungan kesehatan mental krusial bagi mahasiswa; (3) memberikan rekomendasi kebijakan/program yang relevan untuk Universitas.
Teori Stres dan Coping (Lazarus & Folkman)
Lazarus & Folkman (1984) memandang stres sebagai hasil dari penilaian (appraisal) individu terhadap tuntutan situasi dan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapinya. Coping adalah usaha kognitif dan perilaku untuk mengatasi tuntutan tersebut. Pendekatan ini menekankan bahwa respon mahasiswa terhadap tekanan sangat dipengaruhi oleh penilaian subjektif mereka oleh karena itu intervensi yang menguatkan kapasitas coping dapat mengurangi dampak negatif stres.
Teori Dukungan Sosial (Cohen & Wills)
Dukungan sosial berperan sebagai faktor protektif yang mengurangi efek stres (buffering hypothesis). Dukungan bisa bersifat emosional (empati, perhatian), instrumental (bantuan praktis), informasional (nasihat), dan penilaian (umpan balik). Untuk mahasiswa, sumber dukungan meliputi teman sebaya, keluarga, dosen, dan layanan kampus (konselor).
Teori Kebutuhan Manusia (Maslow)
Maslow (1943) menggarisbawahi bahwa kebutuhan psikologis dan rasa aman (safety, belongingness) menjadi dasar bagi perkembangan aktualisasi diri. Mahasiswa yang kebutuhan sosial dan emosionalnya tidak terpenuhi akan sulit mencapai kinerja akademik optimal.
Model Ekologis (Bronfenbrenner)
Bronfenbrenner menekankan bahwa perkembangan individu dipengaruhi oleh lapisan lingkungan (mikro keluarga/teman; meso kampus; makro kebijakan sosial). Intervensi efektif harus mempertimbangkan tingkat institusional (kebijakan kampus), komunitas (organisasi mahasiswa), dan individu.
Implikasi Teori untuk Kampus
Berdasarkan teori-teori tersebut, dukungan kesehatan mental harus bersifat multi-level (individu peer institusi), menyediakan layanan yang mudah diakses, meningkatkan kapasitas coping mahasiswa, dan membangun lingkungan sosial yang suportif.
Mengapa Dukungan Kesehatan Mental Penting bagi Mahasiswa di Universitas.
1. Menurunkan Risiko Gangguan Mental : Intervensi dini dan akses konseling dapat mengurangi progresi stres menjadi kondisi klinis seperti depresi berat atau gangguan kecemasan.
2. Meningkatkan Kelulusan dan Kinerja Akademik : Kesejahteraan mental berkorelasi positif dengan motivasi, konsentrasi, dan keberlanjutan studi.
3. Mencegah Krisis dan Kejadian Tragis : Adanya jalur rujukan cepat dan jaringan dukungan peer dapat menyelamatkan nyawa pada kondisi krisis.
4. Menciptakan Budaya Kampus Sehat : Program promosi kesehatan mental mengurangi stigma, mendorong literasi emosional, dan memperkuat solidaritas civitas akademika.
5. Kepatuhan Pada Tanggung Jawab Institusional : Sebagai institusi pendidikan, universitas berkewajiban menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif belajar-bekerja.
Faktor Risiko Gangguan Mental Pada Mahasiswa :
Kesehatan mental mahasiswa tidak terlepas dari berbagai tekanan internal maupun eksternal yang dihadapi selama menempuh pendidikan tinggi. Beberapa faktor berikut merupakan penyebab paling umum yang dapat meningkatkan risiko gangguan mental di kalangan mahasiswa :
1. Tuntutan Akademik yang Tinggi
Mahasiswa sering dihadapkan pada beban tugas yang berat, target nilai tinggi, serta tekanan untuk berprestasi baik dari diri sendiri, orang tua, maupun lingkungan kampus. Sistem penilaian yang kompetitif, ujian beruntun, dan tuntutan untuk aktif di organisasi membuat mahasiswa rentan terhadap stres akademik.
Dampaknya : muncul rasa cemas, kehilangan motivasi belajar, perfeksionisme berlebihan, hingga burnout (kelelahan emosional akibat tekanan belajar yang kronis).
Contoh: mahasiswa yang merasa gagal memenuhi ekspektasi dosen atau orang tua dapat mengalami rasa tidak berharga, putus asa, bahkan kehilangan minat untuk melanjutkan kuliah.
2. Kurang Waktu Istirahat dan Pola Hidup Tidak Seimbang
Gaya hidup mahasiswa sering kali tidak seimbang antara belajar, istirahat, dan rekreasi. Banyak yang menghabiskan waktu larut malam untuk mengerjakan tugas, begadang menjelang ujian, atau terlalu sibuk dengan kegiatan organisasi.
Kekurangan tidur kronis dan kurang olahraga dapat mengganggu sistem saraf, menurunkan daya konsentrasi, serta memperburuk suasana hati.
Dampaknya : tubuh lelah, pikiran sulit fokus, mudah marah, hingga meningkatnya risiko gangguan seperti insomnia, kecemasan, dan depresi ringan.
Penjelasan ilmiah : tidur yang cukup (7–8 jam per malam) membantu otak melakukan proses recovery dan pengaturan emosi melalui keseimbangan hormon serotonin dan kortisol.
3. Tekanan Ekonomi dan Masalah Keuangan
Sebagian besar mahasiswa harus menanggung beban keuangan sendiri membayar biaya kuliah, kos, makan, transportasi, bahkan membantu keluarga. Mahasiswa yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah cenderung mengalami tekanan finansial yang tinggi.
Dampaknya: stres akibat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dapat memunculkan perasaan cemas, rendah diri, dan tidak berdaya. Dalam kasus tertentu, mahasiswa mungkin terpaksa bekerja sambil kuliah yang menyebabkan kelelahan fisik dan mental.
Contoh: mahasiswa pekerja paruh waktu sering kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah sehingga merasa terisolasi dan kelelahan secara emosional.
4. Kesepian dan Kehilangan Dukungan Sosial
Perpindahan dari lingkungan keluarga ke dunia kampus menuntut mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Banyak mahasiswa perantau mengalami kesepian, kehilangan teman dekat, atau kesulitan bergaul. Jika tidak memiliki jaringan sosial yang suportif, mahasiswa dapat merasa terasing dan tidak memiliki tempat berbagi masalah. Kondisi ini sering menjadi pemicu depresi dan menurunnya kepercayaan diri.
Dampaknya: meningkatnya rasa cemas sosial, isolasi diri, dan gangguan harga diri.
Penjelasan teori: menurut Cohen & Wills (1985), dukungan sosial memiliki efek buffering yang dapat menahan dampak stres. Ketika dukungan itu hilang, individu menjadi lebih rentan terhadap tekanan emosional.
5. Akses Terbatas terhadap Layanan Konseling dan Psikologis
Masih banyak mahasiswa yang tidak tahu ke mana harus mencari bantuan profesional, atau merasa takut dianggap lemah jika mendatangi konselor kampus. Beberapa universitas belum memiliki sistem layanan psikolog yang aktif dan mudah dijangkau.
Dampaknya: mahasiswa menyimpan masalah sendiri, hingga stres menumpuk dan berujung pada gangguan mental yang lebih berat.
Faktor penghambat: stigma sosial, keterbatasan tenaga konselor, dan kurangnya promosi tentang pentingnya kesehatan mental.
Solusi : Rekomendasi Program Praktis untuk di Universitas
1. Penguatan Layanan Konseling
• Tambah jam layanan dan tenaga konselor profesional; sediakan konseling daring (telecounseling) untuk akses cepat.
• Buat protokol rujukan darurat (24/7 hotline atau kerja sama dengan layanan kesehatan setempat).
2. Program Peer Support dan Pelatihan Gatekeeper
• Bentuk relawan peer supporters yang dilatih dasar konseling psikososial dan deteksi dini.
• Latih dosen dan staf sebagai gatekeepers (mengenali tanda-tanda bahaya dan merujuk ke layanan tepat).
3. Pendidikan dan Literasi Kesehatan Mental
• Integrasikan modul literasi emosional di orientasi mahasiswa baru.
• Selenggarakan workshop coping skills, manajemen stres, dan teknik relaksasi secara berkala.
4. Kebijakan Akademik yang Ramah Kesehatan Mental
• Pertimbangkan kebijakan fleksibilitas tugas/ujian untuk mahasiswa yang sedang dalam perawatan psikologis.
• Implementasikan sistem cuti kesehatan mental yang jelas dan tanpa stigma.
5. Ruang Aman dan Aktivitas Preventif
• Sediakan quiet rooms atau wellness spaces di kampus untuk istirahat dan mindfulness.
• Kegiatan komunitas (olahraga, seni, volunteering) untuk membangun koneksi sosial.
6. Monitoring dan Evaluasi
• Lakukan survei tahunan kesejahteraan mental (mis. DASS-21 atau GHQ) untuk memonitor kebutuhan dan outcome program.
• Gunakan data untuk merancang intervensi berbasis bukti.
• Kampus perlu memperluas Student Mental Health Center, mengadakan kampanye “It’s Okay to Ask for Help”, dan memastikan mahasiswa tahu jalur bantuan yang tersedia.
Kesimpulan :
Dukungan kesehatan mental adalah investasi strategis bagi Universitas untuk meningkatkan kesejahteraan mahasiswa, menjaga kualitas akademik, dan memperkuat reputasi institut sebagai lingkungan pembelajaran yang peduli. Implementasi program multi-level (konseling, peer support, kebijakan ramah-mental, literasi) disertai evaluasi berkala sangat direkomendasikan. Intervensi kesehatan mental di kampus tidak hanya soal menambah konselor melainkan transformasi sistemik: kebijakan, budaya, akses, dan literasi. Dukungan sosial yang kuat (peer, dosen, keluarga) berperan besar dalam buffering terhadap stres akademik. Program yang integratif dan berbasis bukti cenderung efektif apabila dilengkapi monitoring berkelanjutan dan komitmen anggaran.
Referensi Pilihan (Dasar Teori & Instrumen) :
• Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. Springer.
• Cohen, S., & Wills, T. A. (1985). Stress, social support, and the buffering hypothesis. Psychological Bulletin.
• Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review.
• Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development. Harvard University Press.
• Lovibond, S. H., & Lovibond, P. F. (1995). DASS manual (instrument untuk mengukur depression, anxiety, stress).
• World Health Organization. (dokumentasi mengenai kesehatan mental definisi dan kebijakan promosi kesejahteraan).
Eksplorasi konten lain dari mediata.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Comment