Pengamat Nilai Bergabungnya Rusdi Masse ke PSI, Ubah Peta Politik Sulsel

MEDIATA.ID — Bergabungnya Rusdi Masse (RMS) ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai berpotensi memengaruhi peta politik Sulawesi Selatan, meski dampaknya tidak akan terjadi secara instan.

Selama ini, dinamika politik Sulsel dikenal bertumpu pada figur kuat, jaringan lokal, serta loyalitas personal. Dalam konteks tersebut, RMS merupakan salah satu aktor politik sentral dengan jejaring yang telah lama terbentuk.

Direktur Profetik Institut sekaligus pengamat politik dan pemerintahan, Asratillah, menilai kepindahan RMS bukan sekadar perpindahan individu, melainkan turut membawa jaringan sosial, politik, dan elektoral yang signifikan.

“Ketika figur seperti RMS berpindah kendaraan politik, yang bergerak bukan hanya satu orang, tetapi juga jaringan relasi sosial dan politik yang telah lama dibangun. Hal ini memberi PSI titik masuk yang lebih serius di Sulawesi Selatan,” ujar Asratillah, Sabtu (31/1).

Menurutnya, dalam jangka pendek, dampak paling terlihat adalah meningkatnya posisi tawar PSI di Sulsel. Partai yang selama ini identik dengan segmen pemilih muda dan kerap diposisikan sebagai pelengkap koalisi, kini mulai diperhitungkan karena memiliki figur berpengalaman yang memahami karakter politik lokal.

“Kondisi ini mendorong partai-partai besar di Sulsel untuk menghitung ulang peran PSI dalam kalkulasi koalisi, baik pada Pilkada maupun Pemilu legislatif. Peta politik menjadi lebih cair,” jelasnya.

Namun demikian, Asratillah menilai tantangan utama justru akan muncul dalam jangka menengah. PSI akan diuji dalam mengintegrasikan pola politik berbasis jaringan yang dibawa RMS dengan kultur partai yang selama ini dikenal lebih ideologis dan komunikatif.

“Jika proses integrasi berjalan baik, PSI berpeluang tumbuh cepat dan menjadi kekuatan politik baru yang stabil di Sulsel. Sebaliknya, gesekan antara kader lama PSI dan jaringan RMS berpotensi memicu konflik internal,” katanya.

Dari sisi RMS, langkah bergabung ke PSI juga membawa konsekuensi strategis. Ia kini berada di partai yang masih dalam tahap penguatan struktur, bukan lagi partai mapan dengan jaringan besar.

“Kondisi ini membuka ruang manuver yang luas, tetapi juga mengandung risiko. RMS berpotensi menjadi magnet bagi figur-figur lokal lain yang tengah mencari kendaraan politik baru,” tambah Asratillah.

Ia menilai, jika kecenderungan tersebut berlanjut, Sulawesi Selatan dapat memasuki fase redistribusi elite politik, di mana loyalitas tidak lagi sepenuhnya terkonsentrasi pada partai-partai lama.

“Masuknya RMS ke PSI bukan berarti PSI langsung dominan, dan bukan pula menandakan melemahnya partai besar. Ini adalah awal pergeseran bertahap yang membuat politik Sulsel ke depan lebih dinamis dan kompetitif,” pungkasnya. (*)


Eksplorasi konten lain dari mediata.id

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Comment