DLH Makassar Dorong Penguatan KSM Sampah Usai Kunjungan ke TPS3R Mulyoagung Bersatu

MEDIATA.ID — Di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Mulyoagung Bersatu, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari sebuah konsumsi, melainkan awal dari siklus ekonomi baru. Bau menyengat yang biasanya identik dengan tempat penampungan sampah nyaris tak tercium, berganti dengan deru mesin pencacah dan kesibukan warga memilah plastik.

​Pemandangan ini menjadi fokus perhatian delegasi Pemerintah Kota Makassar yang melakukan studi tiru, Kamis (7/6/2026). Delegasi yang terdiri atas Dinas Lingkungan Hidup, Badan Riset Daerah (Brida), Dewan Lingkungan, hingga perangkat kecamatan dan kelurahan ini berupaya membedah rahasia di balik keberhasilan tata kelola sampah berbasis masyarakat.

​Bagi Kota Makassar, TPS3R Mulyoagung adalah sebuah laboratorium sosial. Keberhasilan tempat ini bukan bertumpu pada investasi teknologi yang mahal, melainkan pada kombinasi disiplin warga, kelembagaan yang kuat, serta keberanian mengubah paradigma masyarakat terhadap limbah.

​Ketua Tim Riset Brida Kota Makassar, Dodi Agriyanto, menilai model Mulyoagung membuktikan bahwa pengurangan sampah di hulu tidak selalu harus dimulai dengan belanja modal pemerintah yang besar.

​”Kekuatan utama di sini bukan alat, melainkan manusianya. Mereka berhasil membangun budaya memilah dan budaya tanggung jawab. Sampah dikelola sebagai sumber daya ekonomi, bukan sekadar residu kota,” ujar Dodi di sela kunjungan.

Menekan Residu

​Di fasilitas ini, ekosistem ekonomi sirkular berjalan secara presisi. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan ternak melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sementara itu, sampah anorganik dipilah secara detail berdasarkan jenis polimer materialnya sehingga memiliki daya tawar tinggi di industri daur ulang.

​Hasilnya cukup mencolok. Volume residu yang dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA) berhasil ditekan hingga di bawah 15 persen. Angka ini menjadi refleksi penting bagi Kota Makassar yang saat ini tengah berjuang mengatasi beban di TPA Tamangapa yang terus meningkat.

​Selama ini, paradigma pengelolaan sampah perkotaan cenderung terjebak pada pola konvensional: angkut dan buang. Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Mashud Azikin, berpendapat bahwa pendekatan Mulyoagung sangat relevan untuk menggeser fokus pemerintah agar sampah berhenti menjadi beban sejak dari tingkat rumah tangga.

​”Kita terlalu fokus memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain. Di sini kita melihat pengolahan berbasis warga benar-benar berjalan dan mandiri secara pembiayaan,” kata Mashud.

Kemandirian Ekonomi

​Aspek menarik lainnya adalah model pembiayaan mandiri. Operasional TPS3R Mulyoagung tidak bergantung penuh pada anggaran daerah (APBD). Upah pekerja dan biaya operasional ditopang secara swadaya melalui iuran warga serta hasil penjualan material daur ulang.

​Sistem ini menciptakan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Warga tidak lagi memandang TPS3R sebagai tempat kumuh yang harus dijauhi, melainkan aset lingkungan yang produktif.

​Kabid Persampahan, Limbah B3, dan Peningkatan Kapasitas DLH Kota Makassar, Aswin Kertapati Harun, yang memimpin rombongan, mencatat bahwa disiplin pemilahan spesifik menjadi kunci tingginya nilai ekonomi sampah. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi untuk memperkuat posisi kelompok swadaya masyarakat (KSM) di Makassar.

​Masa depan kota modern tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak mereka mampu membuang sampah, tetapi seberapa sedikit mereka menghasilkan residu. Pelajaran dari Mulyoagung menjadi pengingat sederhana: sampah bukanlah musuh kota jika diperlakukan dengan tepat sejak dari tangan pertama. (*)

Comment