MEDIATA.ID – Gerbong mutasi besar-besaran Mabes Polri kembali membawa penyegaran di jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan. Salah satu yang mencuri perhatian adalah penunjukan AKBP Andi Mayasari Patongai, S.I.K. sebagai Kapolres Bantaeng yang baru.
Pergantian jabatan strategis tersebut tertuang resmi dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1335/VI/KEP./2026 hingga ST/1341/VI/KEP./2026 tertanggal 25 Juni 2026. Kehadiran perwira menengah (Pamen) berhijab ini membawa angin segar bagi penegakan hukum dan pelayanan masyarakat di Kabupaten Bantaeng melalui pendekatan yang humanis dan persuasif.
Lantas, seperti apa profil dan rekam jejak Kapolres Bantaeng yang baru ini? Berikut ulasannya:
1. Sentuhan Kultural: Momen “Pulang Kampung”
Melihat dari nama lengkapnya, AKBP Andi Mayasari Patongai mengakar kuat pada identitas budaya Sulawesi Selatan. Penugasan di Bantaeng menjadi momen mudik kultural yang sangat strategis bagi dirinya.
Sebagai perwira yang memahami kultur lokal, ia dinilai memiliki modal sosial besar untuk langsung menyatu dengan masyarakat. Falsafah hidup seperti Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge (saling memanusiakan, menghargai, dan mengingatkan) serta prinsip Siri’ na Pacce dipercaya akan mempermudah komunikasi interpersonalnya dengan tokoh agama, tokoh adat, serta pemuda di Butta Toa—julukan Kabupaten Bantaeng.
2. Alumnus Akpol dan Matang di Dunia Binmas
Menyandang gelar S.I.K. (Sarjana Ilmu Kepolisian), AKBP Andi Mayasari merupakan jebolan Akademi Kepolisian yang dibentuk dengan kedisiplinan dan manajerial organisasi yang kuat.
Sebelum mendapat amanah memimpin Polres Bantaeng, ia lama mengabdi di wilayah hukum Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jabatan terakhirnya di sana adalah Kasubdit Ditbinmas (Direktorat Pembinaan Masyarakat).
Pengalaman di Korps Binmas menandakan bahwa AKBP Andi Mayasari memiliki keahlian tinggi dalam:
- Membangun kemitraan erat antara polisi dan warga (Polmas).
- Memetakan dan mengelola potensi konflik sosial sejak dini melalui ruang dialog.
- Mengutamakan keadilan restoratif (restorative justice) untuk perkara kemasyarakatan tertentu.
Yogyakarta, yang dikenal dengan karakteristik masyarakatnya yang heterogen namun mengedepankan kesantunan, turut membentuk gaya kepemimpinan AKBP Andi Mayasari menjadi figur yang gemar mendengarkan aspirasi dari bawah.
3. Karakter Polwan: Tegas Sekaligus Empatis
Sebagai salah satu pemimpin perempuan di jajaran Polres jajaran Polda Sulsel, AKBP Andi Mayasari dinilai membawa kombinasi kepemimpinan yang ideal: ketegasan dalam koridor hukum, namun tetap memiliki kepekaan akademis dan empiris yang tinggi.
Karakteristik ini sangat efektif dalam menangani isu-isu sosial yang memerlukan penanganan khusus, seperti penguatan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), pengentasan kenakalan remaja, hingga program humanis kepolisian yang menyentuh langsung masyarakat prasejahtera.
Tantangan Awal di Kabupaten Bantaeng
Menjabat sebagai Kapolres Bantaeng, beberapa agenda penting telah menanti AKBP Andi Mayasari Patongai, di antaranya:
- Stabilitas Kamtibmas: Memastikan wilayah hukum Bantaeng tetap aman, damai, dan kondusif.
- Sinergitas Forkopimda: Membangun kolaborasi yang kokoh bersama Pemerintah Kabupaten Bantaeng, TNI, dan unsur kejaksaan/pengadilan.
- Akselerasi Pelayanan Publik: Melanjutkan program-program presisi jajaran Polres Bantaeng agar pelayanan SIM, SKCK, hingga pengaduan masyarakat menjadi lebih cepat, transparan, dan akuntabel.
Masyarakat Kabupaten Bantaeng kini menaruh harapan besar pada pundak AKBP Andi Mayasari Patongai untuk membawa institusi kepolisian setempat menjadi mitra pelindung, pengayom, dan pelayan yang semakin dicintai warga. (*)

Comment