Pemkot Makassar mulai mempelajari teknologi pengolahan sampah modern asal Bali yang diklaim mampu mereduksi volume sampah hingga 90 persen. Sistem ini diharapkan menjadi solusi untuk mengakhiri praktik open dumping di TPA Makassar.
MAKASSAR, MEDIATA.ID – Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar kini berburu berbagai solusi inovatif untuk mempercepat penanganan sampah, terutama menjelang target penghentian sistem open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Salah satu teknologi yang kini menjadi perhatian adalah SOMYA Digester, mesin pengolah sampah organik yang diklaim mampu mengubah sampah menjadi kompos hanya dalam waktu 4 hingga 8 jam, jauh lebih cepat dibanding metode komposting konvensional yang membutuhkan waktu hingga enam bulan.
Teknologi tersebut dipelajari langsung oleh Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, saat melakukan kunjungan ke PT Enviro Mas Sejahtera di Denpasar, Bali, Minggu (5/7/2026).
Solusi Baru Atasi Krisis Sampah
Dalam kunjungan tersebut, rombongan Pemerintah Kota Makassar menerima pemaparan langsung dari Direktur PT Enviro Mas Sejahtera sekaligus pengembang teknologi SOMYA Digester, Agung Ngurah Panji Astika.
Teknologi ini dirancang untuk mengolah sampah organik secara cepat, efisien, dan ramah lingkungan. Selain mempercepat proses penguraian, mesin tersebut juga diklaim mampu mengurangi volume sampah hingga hampir 90 persen.
Dari setiap 100 kilogram sampah organik yang diolah, hanya tersisa sekitar 10 kilogram hasil olahan berupa kompos.
Keunggulan lainnya, proses pengolahan dilakukan tanpa pembakaran sehingga tidak menghasilkan emisi karbon maupun gas penyebab bau seperti metana dan hidrogen sulfida.
Makassar Ingin Tinggalkan Open Dumping
Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, mengatakan persoalan sampah merupakan isu strategis yang membutuhkan inovasi serta kolaborasi berbagai pihak.
Menurutnya, Pemerintah Kota Makassar terus membuka ruang belajar dari daerah maupun mitra yang telah berhasil menerapkan sistem pengelolaan sampah modern.
“Kunjungan ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemerintah Kota Makassar untuk mempelajari praktik-praktik terbaik dalam pengelolaan sampah. Kami berharap berbagai inovasi yang diperoleh dapat menjadi referensi sekaligus bahan evaluasi dalam memperkuat sistem pengelolaan persampahan di Kota Makassar sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” ujar Aliyah.
Sampah Organik Masih Mendominasi
Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, mengungkapkan bahwa sekitar 56 hingga hampir 60 persen timbulan sampah di Makassar merupakan sampah organik.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap teknologi pengolahan menjadi semakin mendesak.
“Sampah sudah menjadi kondisi darurat. Karena itu kita membutuhkan banyak teknologi dan berharap teknologi SOMYA ini nantinya juga dapat hadir di Makassar,” kata Helmy.
Ia menjelaskan bahwa TPA Makassar saat ini masih menggunakan sistem open dumping dan telah menerima sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Pemerintah Kota Makassar kini terus melakukan pembenahan dengan target menghentikan sistem tersebut secara bertahap.
“Insyaallah pada Agustus nanti sistem open dumping dapat ditutup sepenuhnya. Ke depan TPA hanya menerima sampah residu, sedangkan sampah organik akan diolah sejak dari sumbernya melalui pemilahan dan pengolahan yang lebih baik,” jelasnya.
Bisa Dipasang di Hotel hingga Rumah Sakit
Menurut Agung Ngurah Panji Astika, SOMYA Digester tidak membutuhkan lahan yang luas sehingga dapat dipasang di berbagai lokasi, seperti hotel, restoran, rumah sakit, kawasan komersial, maupun fasilitas publik lainnya.
Mesin tersebut juga telah dilengkapi sistem Human Machine Interface (HMI) berbasis layar sentuh sehingga mudah dioperasikan.
Ia berharap teknologi tersebut dapat membantu berbagai pemerintah daerah di Indonesia dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Fakta Menarik
- Sampah organik mencapai sekitar 60 persen dari total timbulan sampah di Makassar.
- SOMYA Digester mampu mengolah sampah organik menjadi kompos hanya dalam 4–8 jam.
- Volume sampah dapat berkurang hingga sekitar 90 persen.
- Mesin tidak menghasilkan emisi karbon maupun bau menyengat.
- Pemerintah Kota Makassar menargetkan penghentian sistem open dumping pada Agustus 2026.
FAQ
Apa itu SOMYA Digester?
SOMYA Digester merupakan teknologi pengolah sampah organik yang mampu mengubah sampah menjadi kompos dalam waktu singkat.
Berapa lama proses pengolahannya?
Sekitar 4 hingga 8 jam, jauh lebih cepat dibanding metode komposting konvensional.
Mengapa Makassar mempelajari teknologi ini?
Karena Pemerintah Kota Makassar sedang mempercepat pembenahan sistem pengelolaan sampah dan menargetkan penghentian open dumping.
Apa keunggulan teknologi ini?
Mampu mereduksi volume sampah hingga 90 persen, tidak menggunakan pembakaran, minim bau, dan ramah lingkungan.
Kapan Makassar menargetkan menghentikan open dumping?
Pemerintah Kota Makassar menargetkan sistem open dumping dapat ditutup sepenuhnya pada Agustus 2026.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan hasil kunjungan Pemerintah Kota Makassar ke PT Enviro Mas Sejahtera, keterangan resmi para narasumber, serta informasi teknis mengenai teknologi SOMYA Digester yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut.

Comment