MEDIATA.ID — Komitmen menuju kota bebas sampah kembali diperkuat oleh Pemerintah Kecamatan Wajo, Kota Makassar. Langkah tegas dan progresif ini diwujudkan melalui terobosan baru dalam sistem pengelolaan serta pemilahan sampah langsung dari hulu.
Memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Kecamatan Wajo resmi mendistribusikan 22 bak sampah khusus organik untuk seluruh armada pengangkut sampah yang beroperasi di wilayah tersebut. Langkah ini ditargetkan mampu menekan volume pembuangan, sehingga hanya sampah residu yang nantinya masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.
Camat Wajo, Ivan Kalalembang, menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar program seremonial, melainkan strategi nyata untuk mengubah pola pengelolaan sampah di tingkat lapangan secara berkelanjutan.
“Ini langkah serius. Kami distribusikan 22 bak sampah organik untuk 22 armada truk. Tujuannya jelas, sejak awal pengangkutan sampah sudah dipilah, sehingga yang masuk ke TPA Antang nantinya benar-benar hanya sampah residu,” tegas Ivan.
Lebih jauh, Ivan menjelaskan bahwa sampah organik yang terkumpul tidak akan lagi bercampur dengan jenis sampah lain. Seluruh sampah organik tersebut akan langsung dibawa dan dikelola di Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Satando di Kelurahan Malimongan Tua, untuk diolah menjadi pupuk kompos serta kebutuhan lingkungan seperti lubang biopori.
Sementara itu, untuk jenis sampah anorganik seperti plastik, kardus, hingga material kemasan lainnya, Kecamatan Wajo telah lebih dulu menggerakkan sistem melalui Bank Sampah Unit (BSU) Bina Sejahtera di Kelurahan Malimongan.
“Plastik, kardus, dan sampah anorganik lainnya, termasuk minyak jelantah, sudah kami kelola melalui Bank Sampah Unit. Jadi, semua jenis sampah sekarang sudah memiliki jalur pengolahannya masing-masing,” lanjutnya.
Distribusi 22 bak sampah ini disesuaikan secara presisi dengan jumlah total armada pengangkut sampah di Kecamatan Wajo guna mengintegrasikan sistem pengangkutan berbasis pemilahan langsung. Saat ini, meski ada dua armada yang masih dalam proses perawatan berkala, penerapan sistem baru ini dipastikan tetap berjalan secara bertahap di lapangan.
Tidak hanya fokus pada penyediaan sarana fisik, Kecamatan Wajo juga gencar memperkuat edukasi kepada masyarakat. Pendekatan persuasif dilakukan melalui peran RT/RW, rumah ibadah, hingga menyasar para pelaku usaha lokal seperti kafe dan rumah makan. Strategi “perubahan dari lingkungan terkecil” ini diterapkan demi mempercepat terbentuknya budaya pilah sampah di tengah warga.
“Kami sudah memasifkan edukasi ini selama hampir satu bulan terakhir. Ini bukan hanya soal melengkapi fasilitas, melainkan tentang bagaimana mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat,” pungkas Ivan.
Dengan gebrakan taktis ini, Kecamatan Wajo mengukuhkan diri sebagai salah satu wilayah di Kota Makassar yang paling agresif dalam mendorong target zero waste, sekaligus optimistis mampu menurunkan drastis pasokan sampah harian ke TPA Antang dalam waktu dekat.

Comment