Kopi hingga Markisa Khas Sulsel Jadi Incaran Ekspor Pembeli dari 13 Negara Sahabat

MEDIATA.ID — Komoditas perkebunan dan hortikultura asli Sulawesi Selatan kembali membuktikan taringnya di pasar internasional. Dalam forum Business to Business (B2B) yang menjadi bagian dari Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 di Hotel The Rinra, Rabu (24/6/2026), produk lokal seperti kopi, cokelat, hingga buah markisa khas daerah resmi menjadi buruan utama para pembeli dari 13 negara.

​Ke-13 negara yang siap membuka jalur perdagangan langsung dengan eksportir dan produsen lokal ini meliputi Filipina, Belanda, Meksiko, Venezuela, Ukraina, Ethiopia, Tunisia, Kuba, Laos, Fiji, Kamboja, Nigeria, dan Kosta Rika.

​Ketua Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) Sulawesi Selatan, Haidir Halik, mengungkapkan bahwa produk pertanian dan perkebunan Sulsel sebenarnya sangat melimpah dan dicari di luar negeri. Namun, selama ini hambatannya ada pada akses komunikasi langsung.

​”Melalui forum berbentuk business matching ini, hambatan tersebut dipangkas. Pembeli yang butuh barang langsung bertemu bertatap muka dengan produsen lokal yang memiliki barang. Dari pantauan kami di lapangan, banyak sekali terjadi kecocokan transaksi dagang (deal),” ungkap Haidir.

​Ia merincikan, kopi dan cokelat masih berada di urutan teratas sebagai komoditas yang paling diminati. Menariknya, forum kali ini juga menjadi momentum kebangkitan buah markisa khas Sulsel di panggung dunia. Meskipun pasokannya belum masif, kualitas premium buah markisa lokal dinilai memiliki prospek ekspor yang sangat menjanjikan.

​Penyelenggaraan B2B di Makassar ini tercatat memecahkan rekor dengan skala terbesar dibanding kota-kota sebelumnya di Indonesia. Jika di daerah lain kegiatan serupa hanya mampu mendatangkan 4 hingga 11 negara, Makassar sukses menggaet hingga 28 delegasi negara sahabat.

​Bagi para petani dan pelaku UMKM di berbagai kabupaten di Sulsel, kepastian kontrak dagang internasional ini menjadi angin segar yang berdampak langsung pada stabilitas harga jual di tingkat akar rumput.

​Terbukanya akses ekspor langsung tanpa perantara (tengkulak) ini diproyeksikan mampu mendongkrak pendapatan riil para petani lokal, meningkatkan standar mutu produk daerah, serta mempercepat laju pertumbuhan ekonomi berbasis agraria di Sulawesi Selatan.

Comment