Dua Pahlawan Meksiko: Perjalanan Julián Quiñones dan Raúl Jiménez dari Jalan Berbeda Menuju Panggung Piala Dunia

MEDIATA.ID – Kemenangan Meksiko atas Ekuador pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 tidak hanya memperlihatkan kekuatan kolektif El Tri, tetapi juga menjadi panggung bagi dua penyerang dengan kisah hidup yang sangat berbeda.

Julián Quiñones, pemain naturalisasi kelahiran Kolombia, membuka keunggulan pada menit ke-22. Sementara Raúl Jiménez, striker senior yang pernah nyaris mengakhiri karier akibat cedera kepala, menggandakan keunggulan sembilan menit kemudian.

Meski berasal dari generasi dan latar belakang berbeda, keduanya kini menjadi simbol kekuatan lini depan Meksiko.

Julián Quiñones, Dari Kolombia Menjadi Harapan Baru El Tri

Julián Andrés Quiñones lahir di Magüí Payán, Kolombia, pada 24 Maret 1997. Karier profesionalnya dimulai bersama Tigres UANL sebelum berkembang pesat di Liga MX saat memperkuat Lobos BUAP, Atlas FC, dan Club América.

Namanya semakin dikenal setelah membawa Atlas meraih dua gelar Liga MX secara beruntun. Konsistensi itulah yang membuat Meksiko memberikan kewarganegaraan kepadanya dan memanggilnya memperkuat tim nasional.

Keputusan naturalisasi sempat memunculkan perdebatan. Namun Quiñones membalas semua keraguan melalui performa di lapangan.

Gol ke gawang Ekuador menjadi salah satu bukti bahwa ia kini merupakan bagian penting dari proyek besar El Tri.

Gaya Bermain

Quiñones dikenal sebagai penyerang modern yang memiliki kecepatan, kekuatan fisik, serta kemampuan bermain di beberapa posisi, baik sebagai striker maupun winger.

Pergerakannya tanpa bola dan keberanian melakukan duel satu lawan satu menjadi senjata utama yang kerap merepotkan pertahanan lawan.

Estimasi Gaji

Setelah bergabung dengan klub Arab Saudi Al-Qadsiah, Quiñones diperkirakan menerima penghasilan sekitar US$4–6 juta per musim, atau setara sekitar Rp65–98 miliar per tahun, berdasarkan berbagai laporan media olahraga internasional.


Raúl Jiménez, Bangkit dari Cedera yang Nyaris Mengakhiri Karier

Berbeda dengan Quiñones yang sedang berada di puncak kariernya, Raúl Jiménez merupakan sosok senior yang telah melewati berbagai ujian.

Lahir di Hidalgo, Meksiko, pada 5 Mei 1991, Jiménez mengawali karier profesional bersama Club América sebelum merantau ke Atlético Madrid, Benfica, hingga Wolverhampton Wanderers.

Namanya dikenal luas sebagai salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Meksiko.

Namun perjalanan kariernya berubah drastis pada November 2020.

Dalam pertandingan Liga Inggris melawan Arsenal, Jiménez mengalami benturan keras dengan David Luiz yang menyebabkan retak tengkorak. Cedera tersebut membuatnya harus menjalani operasi dan menjalani rehabilitasi panjang.

Banyak yang meragukan ia dapat kembali bermain di level tertinggi.

Namun Jiménez membuktikan sebaliknya.

Dengan kerja keras dan mental baja, ia kembali ke lapangan, bergabung bersama Fulham, dan tetap menjadi pilihan utama tim nasional Meksiko.

Golnya ke gawang Ekuador menjadi bukti bahwa naluri mencetak golnya belum pernah hilang.

Gaya Bermain

Jiménez dikenal sebagai penyerang komplet yang kuat dalam duel udara, mampu menjadi target man, serta memiliki kemampuan menyelesaikan peluang dengan tenang.

Pengalamannya membuatnya tetap menjadi pemimpin lini depan Meksiko, terutama dalam pertandingan-pertandingan besar.

Estimasi Gaji

Bersama Fulham, Jiménez diperkirakan menerima gaji sekitar £100.000 per pekan, atau sekitar £5 juta per tahun (sekitar Rp110 miliar), berdasarkan laporan sejumlah media olahraga Inggris.


Dua Generasi, Satu Tujuan

Quiñones dan Jiménez datang dari jalan yang berbeda.

Satu lahir di Kolombia dan menjadi warga negara Meksiko melalui naturalisasi. Yang lain merupakan produk asli sepak bola Meksiko yang telah mengharumkan nama negaranya di Eropa.

Namun keduanya bertemu dalam satu tujuan yang sama: membawa El Tri melangkah sejauh mungkin di Piala Dunia 2026.

Gol Quiñones menunjukkan masa depan cerah sepak bola Meksiko, sementara gol Jiménez menjadi simbol bahwa pengalaman masih memiliki nilai yang tak tergantikan.

Jika duet ini terus tampil tajam, bukan tidak mungkin Meksiko akan menjadi salah satu kuda hitam yang mampu memberi kejutan pada fase gugur Piala Dunia tahun ini.

Comment