MEDIATA.ID — Krisis lingkungan global saat ini dinilai bukan sekadar persoalan teknis ekologis, melainkan cerminan dari krisis moral dan cara pandang manusia terhadap alam. Untuk merespons hal tersebut, paradigma sosiologi perlu bergeser dari sekadar penjelasan struktural menuju pendekatan integratif yang melibatkan nilai-nilai spiritual atau ekoteologi.
Pemikiran tersebut mengemuka dalam kuliah tamu bertajuk “Sosiologi Integratif Berbasis Ekoteologi sebagai Kerangka Analisis Sosial untuk Pembangunan Berkelanjutan” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin (4/5/2026).
Hadir sebagai pembicara utama, Guru Besar Sosiologi Universitas Sriwijaya, Prof Ridhah Taqwa, memaparkan bahwa sosiologi masa depan harus mampu menghubungkan realitas sosial dengan nilai wahyu. Menurut dia, selama ini pembangunan cenderung bersifat antroposentris, di mana manusia menjadi pusat dan alam dipandang sebagai objek eksploitasi.
“Pembangunan berkelanjutan harus didasarkan pada kesadaran bahwa alam adalah amanah Tuhan. Paradigma harus bergeser menjadi teosentris yang berbasis pada tauhid ekologis,” ujar Ridhah di hadapan sivitas akademika Unismuh Makassar.
Pendekatan Interdisipliner
Ridhah menjelaskan, sosiologi integratif menawarkan kerangka analisis yang lebih komprehensif karena menggabungkan dimensi struktural, kultural, dan spiritual. Dengan melibatkan dimensi wahyu yang bersifat universal, ilmu sosial diharapkan dapat menjadi fondasi bagi sistem sosial yang lebih adil dan beretika.
Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr Mawardi Pewangi, saat membuka acara menekankan bahwa integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai keislaman merupakan mandat bagi perguruan tinggi Muhammadiyah. Kampus diharapkan tidak hanya melahirkan intelektual, tetapi juga agen perubahan yang memiliki landasan moral kuat.
“Kampus harus menjadi pusat pengembangan ilmu yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Mawardi.
Senada dengan itu, Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh, Dr Andi Husniati, menilai tema ekoteologi sangat relevan dengan tantangan global, terutama dalam menjawab kebuntuan solusi atas perubahan iklim yang terus terjadi.
Penguatan Akademik
Bagi Prodi Pendidikan Sosiologi Unismuh Makassar, kehadiran pakar dari luar instansi merupakan upaya menjaga iklim akademik tetap dinamis. Ketua Prodi Pendidikan Sosiologi, Dr Jamaluddin Arifin, menyebutkan bahwa mahasiswa perlu dibekali kemampuan membaca persoalan sosial secara interdisipliner.
“Kuliah tamu ini menjadi ruang dialog antara teori dan praktik sosial terbaru. Mahasiswa dituntut memiliki perspektif kritis agar mampu menganalisis persoalan lingkungan yang semakin kompleks,” tutur Jamaluddin.
Aktivitas ilmiah ini juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan mutu institusional, mengingat Prodi Pendidikan Sosiologi Unismuh telah meraih akreditasi “Unggul” dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK). Melalui penguatan diskursus seperti ekoteologi, program studi ini berupaya memberikan kontribusi pemikiran bagi agenda pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (*)

Comment