Jaga Objektivitas Nilai, Panitia MTQ Maros Terapkan Sistem Rahasia dan ‘Rolling’ Dewan Hakim

MEDIATA.ID — Memasuki hari keempat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Kabupaten Maros, seluruh cabang lomba yang dipertandingkan ditargetkan rampung total pada tahap babak penyisihan.

Koordinator Lomba MTQ XXXIV Sulsel, Wahyadi Syarifuddin, menyebut hari keempat ini menjadi momen paling krusial karena akan memetakan dan menentukan peringkat para kalaf peserta di semua cabang keagamaan tersebut.

“Hari ini adalah batas akhir babak penyisihan. Jadi semua konstelasi peringkat cabang lomba sudah bisa mulai terlihat dengan jelas, siapa saja kafilah yang berpeluang besar mengamankan tiket ke tahap final,” ujar Wahyadi Syarifuddin.

Wahyadi menjelaskan, sebagian besar cabang lomba dijadwalkan selesai pada sore hari. Namun, beberapa kategori penilaian tertentu diprediksi masih akan dinamis berlangsung hingga malam hari.

“Rata-rata sekitar pukul 18.00 WITA sore sudah selesai, meskipun ada beberapa cabang yang berlanjut malam hari. Tetapi secara regulasi, semuanya wajib rampung hari ini karena sudah sesuai timeline jadwal yang ditetapkan panitia,” katanya.

Pasca-selesainya babak penyisihan, Dewan Hakim langsung mengagendakan rapat pleno persiapan final setelah waktu Maghrib. Rapat penentuan finalis ini diproyeksikan akan berlangsung maraton hingga tengah malam demi memastikan seluruh akumulasi hasil penilaian tuntas tanpa sisa.

Strategi ‘Rolling’ Dewan Hakim Demi Hindari Konflik Kepentingan

Dalam upaya menjaga muruah dan objektivitas kompetisi, panitia penyelenggara berencana melakukan pergeseran atau skema rolling formasi Dewan Hakim pada babak final mendatang. Langkah taktis ini diambil guna memitigasi potensi konflik kepentingan (conflict of interest).

“Supaya tidak ada indikasi celah keberpihakan, misalnya faktor kedekatan geografis karena hakim berasal dari daerah yang sama dengan peserta. Jadi penilaian di fase puncak benar-benar murni profesional,” jelas Wahyadi.

Meski begitu, ia mengakui tidak semua komposisi hakim bisa dirotasi secara fleksibel. Terutama pada klaster cabang lomba yang membutuhkan spesifikasi keahlian khusus dan langka, seperti tafsir bahasa Arab dan tafsir bahasa Inggris.

Sebagai informasi, total perangkat pengadil yang terlibat dalam MTQ ke-34 kali ini mencapai 107 orang, yang merupakan gabungan dari Dewan Hakim, panitera, hingga tim pengawas independen.

Inovasi Penilaian Baru: Mimbar Tertutup dan Identitas Rahasia

Lebih lanjut, gelaran MTQ Sulsel tahun ini juga menerapkan sejumlah transformasi sistem baru guna mendongkrak kualitas serta kredibilitas penilaian. Beberapa regulasi ketat yang diterapkan di lapangan antara lain:

  • Reposisi Meja Penilai: Posisi duduk Dewan Hakim kini tidak lagi ditempatkan secara berhadapan di depan peserta, melainkan digeser berada di belakang mimbar tampil.

  • Anonimitas Kafilah: Identitas asli peserta sepenuhnya dirahasiakan selama penilaian. Hakim hanya dibekali nomor tampil, tanpa mengetahui nama maupun asal kabupaten/kota peserta.

  • Sterilisasi Cabang Kaligrafi: Area pameran kriya dibatasi sangat ketat, serta diberlakukan larangan penggunaan ponsel (smartphone) bagi siapa pun yang berada di dalam ruangan guna mencegah kebocoran ide atau kecurangan.

Melalui pengetatan sistem berlapis ini, Wahyadi optimistis Sulawesi Selatan mampu melahirkan qari-qariah dan hafiz-hafizah terbaik yang memiliki daya saing tinggi untuk didelegasikan ke tingkat nasional.

“Tujuan utama kita adalah melahirkan delegasi yang kompeten secara murni. Dengan integrasi sistem baru ini, kita optimis mutu dan orisinalitas kualitas penilaian jauh lebih terjaga,” pungkasnya. (*)

Comment