Ketika Algoritma Media Sosial Mengenal Kita Lebih Dalam

A. Hadijah Sulfiyani A, S.Pd., M.M. (Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran, Universitas Negeri Makassar)

Penulis : A. Hadijah Sulfiyani A, S.Pd., M.M. (Dosen Pendidikan Administrasi Perkantoran, Universitas Negeri Makassar) 

Media sosial pada awalnya saya pahami sebagai ruang yang memberi kebebasan. Di sana, manusia dapat berbagi gagasan, membangun relasi, dan menemukan informasi tanpa batas geografis. Namun, semakin lama saya menggunakan berbagai platform digital, semakin muncul kesadaran bahwa ruang itu tidak sesederhana yang tampak. Ada sistem yang bekerja diam-diam, menyusun apa yang saya lihat dan apa yang saya abaikan.

Fenomena ini hadir melalui algoritma media sosial. Algoritma bekerja dengan mempelajari kebiasaan pengguna, mulai dari video yang ditonton, unggahan yang disukai, waktu berhenti saat menggulir layar, hingga topik yang paling sering dicari. Semua jejak digital tersebut dikumpulkan dan diolah menjadi pola. Hasilnya, media sosial mampu menyajikan konten yang terasa sangat dekat dengan minat dan emosi penggunanya.

Saya sering merasakan pengalaman yang tampak sederhana tetapi mengundang pertanyaan. Ketika baru membicarakan suatu topik, tidak lama kemudian konten serupa muncul berulang kali di beranda. Ketika sedang tertarik pada isu tertentu, ruang digital seakan dipenuhi pandangan yang memperkuat ketertarikan itu. Pada titik tertentu, saya mulai bertanya apakah media sosial sekadar menyediakan pilihan atau perlahan sedang membentuk pilihan itu sendiri.

Fenomena algoritma sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya negatif. Sistem ini membantu pengguna menemukan informasi yang relevan dan mengurangi banjir informasi yang tidak diperlukan. Di tengah derasnya arus digital, algoritma menghadirkan efisiensi dan kenyamanan. Namun, justru karena manfaat itu terasa begitu alami, keberadaannya sering tidak disadari secara kritis.

Menurut saya, persoalan menjadi menarik ketika algoritma tidak hanya membaca perilaku, tetapi juga memengaruhi cara manusia memberi perhatian. Beranda media sosial tidak hadir secara netral. Apa yang muncul bukan sekadar cermin realitas, melainkan hasil seleksi sistem yang dirancang berdasarkan prediksi tentang apa yang kemungkinan besar membuat kita bertahan lebih lama di layar.

Di sinilah refleksi saya bermula. Kita hidup di era ketika teknologi bukan lagi sekadar alat pasif yang menunggu perintah, melainkan sistem aktif yang belajar dari manusia. Algoritma mengenali pola kesukaan, kecemasan, bahkan kelemahan perhatian kita. Kedekatan itu membuat pengalaman digital terasa personal, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan etis dan sosial yang tidak sederhana.

Pertanyaan yang kemudian mengganggu pikiran saya cukup tajam: ketika algoritma media sosial mengenal kebiasaan, emosi, dan preferensi kita dengan sangat rinci, sejauh mana pilihan yang kita anggap pribadi benar-benar lahir dari diri sendiri?

Apakah kita sedang menggunakan media sosial secara bebas, atau justru perlahan dibimbing oleh sistem yang memahami kita lebih dalam daripada yang kita sadari?

Fenomena algoritma media sosial sangat relevan dengan kehidupan modern karena hampir seluruh aktivitas digital kini berlangsung melalui sistem rekomendasi. Apa yang kita baca, tonton, dan dengarkan tidak lagi hadir secara acak. Beranda media sosial disusun berdasarkan prediksi perilaku. Tanpa disadari, kehidupan digital modern bergerak melalui logika personalisasi yang membuat setiap pengguna hidup dalam ruang informasi yang berbeda.

Di satu sisi, personalisasi memang menghadirkan kenyamanan. Saya dapat menemukan topik yang sesuai minat tanpa harus mencari terlalu lama. Informasi terasa lebih cepat, hiburan lebih mudah dijangkau, dan ruang digital menjadi lebih efisien. Kehadiran algoritma seolah membantu manusia menavigasi dunia informasi yang sangat padat. Modernitas digital akhirnya terasa lebih praktis dan responsif.

Namun, justru di balik kenyamanan itu saya melihat persoalan yang lebih dalam. Algoritma bekerja dengan prinsip mempertahankan perhatian. Konten yang memancing emosi, rasa penasaran, atau keterikatan cenderung lebih sering ditampilkan. Akibatnya, ruang digital tidak selalu memprioritaskan kualitas informasi, melainkan efektivitas mempertahankan keterlibatan pengguna.

Relevansi persoalan ini terlihat dalam kehidupan sosial sehari-hari. Banyak orang merasa pandangannya paling benar karena berulang kali diperkuat oleh konten yang sejalan dengan keyakinannya. Algoritma menciptakan ruang gema atau echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang lebih banyak berinteraksi dengan informasi yang seragam. Situasi ini dapat mempersempit dialog dan memperkeras polarisasi sosial.

Sebagai penulis, saya tidak ingin menempatkan diri sebagai pengamat yang sepenuhnya netral. Saya menyadari bahwa saya pun menikmati kenyamanan algoritma. Ada masa ketika saya merasa pilihan konten yang muncul begitu cocok dengan minat pribadi sehingga saya jarang mempertanyakan mengapa konten itu hadir di layar saya. Kesadaran tersebut membuat saya memahami betapa halus cara algoritma bekerja.

Saya pernah mendapati diri tenggelam terlalu lama dalam satu jenis konten tanpa rencana awal. Dari satu video berpindah ke video lain, dari satu isu menuju isu serupa, hingga waktu berjalan tanpa terasa. Pengalaman itu membuat saya bertanya apakah perhatian saya benar-benar saya kendalikan atau perlahan diarahkan oleh sistem yang dirancang agar saya terus bertahan.

Menurut saya, kritik utama terhadap algoritma bukan semata karena ia menggunakan data pengguna, melainkan karena ia membentuk kebiasaan perhatian manusia secara diam-diam. Algoritma tidak memaksa seperti aturan formal, tetapi memengaruhi melalui kebiasaan dan pengulangan. Pengaruh yang bekerja tanpa terasa sering kali lebih kuat daripada tekanan yang terlihat secara langsung.

Persoalan ini menyentuh dimensi psikologi sosial dan etika digital. Ketika perhatian manusia menjadi komoditas ekonomi, media sosial tidak lagi hanya ruang komunikasi, tetapi juga arena perebutan waktu dan emosi pengguna. Kita mungkin merasa sedang memilih secara bebas, padahal pilihan itu berlangsung di dalam lingkungan yang sudah disusun dan diarahkan sebelumnya.

Karena itu, memandang literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi. Literasi juga harus mengajarkan kesadaran kritis terhadap cara teknologi membentuk perilaku. Jika tidak, manusia berisiko kehilangan otonomi secara perlahan, bukan karena dipaksa oleh mesin, tetapi karena terlalu nyaman hidup dalam rekomendasi yang terus mengenali dan menuntun dirinya.

 

 

Comment