Jelajah Sampah DLH Resmi Dimulai, Ketua Dewan Lingkungan Dorong Budaya Kelola Sampah dari Rumah

MEDIATA.ID – Ketua Dewan Lingkungan Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, secara resmi membuka rangkaian kegiatan Jelajah Sampah yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar di Kecamatan Panakkukang, Sabtu (27/6/2026).

Mengusung tema “Kelola Sampah dari Rumah, Wujudkan Kecamatan Bersih, Hijau, dan Produktif Menuju Makassar Bebas Sampah”, kegiatan ini menjadi langkah kolaboratif untuk memperkuat budaya pengelolaan sampah dari sumbernya.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan edukasi dan aksi nyata yang melibatkan berbagai perangkat daerah, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Perikanan, serta Dinas Ketahanan Pangan.

Rangkaian acara meliputi plogging atau jalan santai sambil memungut sampah, penimbangan sampah hasil aksi bersih, talkshow, Gerakan Pangan Murah, pameran urban farming, hingga berbagai kelas praktik seperti pembuatan biopori, eco-enzyme, komposter, dan budidaya maggot.

Dalam sambutannya, Melinda memberikan apresiasi kepada ratusan Ketua RT dan RW yang hadir mengenakan rompi merah sebagai simbol komitmen bersama membangun lingkungan yang lebih bersih. Sekitar 90 Ketua RW dan lebih dari 400 Ketua RT mengikuti kegiatan tersebut.

Menurutnya, para Ketua RT dan RW merupakan ujung tombak perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dari rumah tangga.

“Terima kasih kepada seluruh Ketua RT dan RW yang hadir hari ini. Kehadiran Bapak dan Ibu menunjukkan bahwa perubahan itu dimulai dari lingkungan terkecil. RT dan RW adalah motor penggerak yang akan mengajak masyarakat membiasakan memilah sampah dari rumah,” ujar Melinda.

Ia menegaskan, membangun budaya baru dalam mengelola sampah bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dibutuhkan konsistensi, keteladanan, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Melinda mencontohkan keberhasilan Korea Selatan yang memerlukan waktu hampir dua dekade untuk meningkatkan tingkat pengelolaan sampah dari di bawah 5 persen hingga mencapai lebih dari 90 persen.

“Artinya perubahan perilaku memang membutuhkan proses. Karena itu kita tidak boleh menyerah. Yang paling penting adalah memulai dari diri sendiri. Sebelum mengajak warga memilah sampah, kita sebagai RT, RW, maupun pemerintah harus lebih dulu melakukannya di rumah masing-masing. Keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar ajakan,” katanya.

Melinda juga memaparkan bahwa Kecamatan Panakkukang sebenarnya telah memiliki modal yang cukup kuat dalam pengelolaan lingkungan.

Saat ini tercatat sekitar 400 bank sampah, meski sebagian masih belum aktif, dengan lebih dari 8.300 nasabah. Selain itu tersedia 739 unit komposter, 130 titik budidaya maggot, 883 unit Teba, serta 1.583 titik biopori.

Menurutnya, potensi tersebut perlu terus dioptimalkan agar setiap wilayah memiliki sistem pengelolaan sampah yang mandiri.

“Saya berharap minimal setiap RW memiliki satu sistem pengelolaan sampah yang aktif. Hari ini kita juga menghadirkan berbagai kelas pelatihan agar masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi langsung memiliki keterampilan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Melinda menambahkan, kolaborasi lintas perangkat daerah dalam kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya membangun ekonomi sirkular. Sampah organik yang dikelola melalui komposter maupun maggot dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung urban farming dan ketahanan pangan keluarga.

“Ketika sampah bisa diolah menjadi kompos, dimanfaatkan untuk menanam sayur, lalu hasil panennya kembali dikonsumsi masyarakat, maka kita sedang membangun siklus yang saling menguatkan. Inilah semangat ekonomi sirkular yang ingin terus kita dorong di Makassar,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan bahwa Jelajah Sampah DLH akan dilaksanakan secara bergilir di seluruh 15 kecamatan di Kota Makassar. Panakkukang menjadi lokasi pertama pelaksanaan tahun ini.

Ia menjelaskan, program yang telah berjalan sejak 2025 tersebut merupakan gerakan edukatif sekaligus aksi nyata untuk memperkuat target Makassar Bebas Sampah 2029 melalui peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.

Di kesempatan yang sama, Camat Panakkukang Syahril menyampaikan bahwa wilayahnya saat ini telah memiliki sekitar 50 unit urban farming dan puluhan bank sampah yang terus dikembangkan. Meski baru sekitar 20 persen masyarakat yang secara mandiri memilah sampah, partisipasi para Ketua RT dan RW dalam gerakan tersebut telah mendekati 100 persen.

Pemerintah Kecamatan Panakkukang pun menargetkan pada tahun 2027 sedikitnya 50 persen masyarakat telah membiasakan pemilahan sampah dari rumah masing-masing.

Melalui Gerakan Jelajah Sampah DLH, Pemerintah Kota Makassar berharap pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai kegiatan sesaat, melainkan menjadi kebiasaan, gaya hidup, dan budaya baru masyarakat.

Dengan keterlibatan aktif RT, RW, pemerintah, dan warga, cita-cita mewujudkan Makassar yang bersih, hijau, produktif, dan bebas sampah diharapkan dapat tercapai secara berkelanjutan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Zainal Ibrahim, jajaran pengurus DLH, para anggota Dewan Lingkungan Hidup, Ketua TP PKK Kecamatan Panakukang Qalby Ahmad, para lurah sekecamatan Panakukang, serta para RT/RW Kecamatan Panakukang.

Comment