MEDIATA.ID — Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kembali menunjukkan gerak cepat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Pasukan tanggap darurat ini turun tangan membersihkan gunungan sampah yang menyumbat aliran Kanal Kandea, Kecamatan Tallo, Selasa (16/6/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menegaskan bahwa tupoksi BPBD melampaui penanganan darurat saat bencana semata, melainkan juga mencakup aspek mitigasi dan pencegahan dini. Salah satunya adalah mengantisipasi banjir dan penyumbatan drainase utama kota.
”Personel kami turun langsung menggunakan armada perahu untuk menyisir dan mengangkut sampah yang menumpuk di sepanjang aliran kanal. Ini merupakan tindak lanjut arahan Bapak Wali Kota untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor bersama pihak kecamatan,” ujar Fadli.
Pembersihan intensif ini menyisir area kanal yang membentang dari depan Perumahan Grand Apple hingga kawasan sekolah di Jalan Al-Markaz. Meski bertepatan dengan momentum hari libur, BPBD tidak menurunkan tensi kesiapsiagaan di lapangan.
Berikut adalah detail teknis operasi pembersihan Kanal Kandea:
- Personel Lapangan: Menerjunkan sekitar 20 anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Makassar.
- Armada Operasional: Menggunakan perahu tanggap bencana untuk menjangkau titik tengah kanal.
- Karakteristik Sampah: Didominasi limbah rumah tangga dan sisa aktivitas pasar dari wilayah hulu (Kecamatan Bontoala) yang hanyut terbawa arus ke wilayah hilir (Kecamatan Tallo).
Menyikapi fenomena sampah kiriman yang terus berulang dari hulu ke hilir, Fadli Tahar menilai intervensi pemerintah tidak akan pernah cukup tanpa adanya lompatan kesadaran dari masyarakat sekitar bantaran.
Sebagai solusi jangka panjang, BPBD Makassar mendorong dua langkah taktis:
- Pemasangan Trash Barrier (Penahan Sampah): Ditempatkan di sejumlah titik sekat strategis agar sampah rumah tangga dapat dilokalisir dan lebih mudah diangkat sebelum menyebar luas.
- Pembentukan KPK (Komunitas Pecinta Kanal): Wadah swadaya masyarakat di sepanjang wilayah perbatasan antar-kecamatan.
”Kami mengusulkan dibentuknya KPK (Komunitas Pecinta Kanal). Tugas mereka nantinya adalah memantau pergerakan sampah, mengawasi warga yang nakal membuang limbah ke air, serta berkolaborasi dengan BPBD untuk aksi bersih berkala,” urai Fadli.
Ia berharap masyarakat tidak lagi menempatkan diri sebagai objek penonton, melainkan subjek aktif yang menjaga ruang hidupnya sendiri.
”Filosofinya sederhana; kalau belum bisa ikut membantu membersihkan, minimal jangan ikut mengotori. Ini adalah tanggung jawab kolektif agar kanal kita tetap berfungsi optimal dan lingkungan kota tetap sehat,” pungkasnya. (*)

Comment