Ungkapan Hati Siswa Saat Pandemi, Kangen Sekolah

MEDIATA.ID — Sudah hampir sembilan bulan kegiatan sekolah dikerjakan di rumah. Rutinitas belajar dan mengajar dilakukan sejak pandemi covid-19. Maksudnya yaitu untuk mencegah penyebaran covid-19.

Seiring waktu. Keluh kesah siswa mulai muncul selama belajar di rumah. Begitu juga para orang tua. Mereka mulai tampak bosan. Aktifitas belajar tatap muka di layar kaca handpone. Lewat online. Siswa rindu dengan suasana kelas. Suarana belajar tatap muka langsung dengan guru. Bermain dengan teman kelasnya.

Muh. Rafaat Qaululhaq, siswa SDN No. 5 Lembang Cina Kecamatan Bantaeng, Bantaeng. Rasa rindunya dengan sang guru. Dituliskannya lewat sepucuk surat. Surat Cintah untuk Ibu Guru.

“Ibu Guru bagaimana kabarta. Mudah-mudahan baik-baik. Saya murid ta. Raraat. Kita kenal saya lewat ibuku saja dan group WA parenting. Saya ingin menyampaikan rinduku,” tulis Rafaat dalam sepucuk kertas, Senin 23 November 2020.

Rafaat menyambung, dalam rindunya dirinya bertanya. Apakah covid-19 ini? Kenapa tiba-tiba dirinya dan siswa lain dilarang ke sekolah. Sampai sekarang. “Saya juga selalu di suruh pakai masker. Awalnya masker ini kusenangi karena membuat keanehan. Wajib dipakai jika keluar rumah. Tapi ternyata bosan ka pakai masker karena nafas terasa sesak,” katanya.

Dia mengatakan, semua orang selalu berpesan kepadanya. Rajin cuci tangan dan berdiam di rumah saja. Dirinya pun sadar. Semua pesan itu adalah cara pencegahan. Mencegah covid-19 menyebar luas.

“Dan akhirnya saya pun tahu semua ini adalah cara pencegahan Covid-19. Penyakit berbahaya pada manusia,” singkatnya.

“Ibu guru. Kapan ki sekolah? Bosan ma tinggal di rumah. Bosan ma dengarki Ibuku marah-marah kalau na ajarka. Kurang seruki ibu guru kalau lewat hp. Mauka lihat ki muka ta di depan papan tulis ajar ka,” katanya.

“Ibu guru, mau ma sekolah. Ka biasa malas ka kerja tugas karena banyak nonton TV. Main HP dan godaan teman yang biasa datang ke rumah ku na ajakka bermain,” lanjutnya.

Rafaat menutup suratnya dengan rasa sedih duduk di kelas baru. Biasanya, setiap siswa berebut bangku bagian depan di kelas baru. Dirinya membayangkan jika kembali normal. Dia akan senang.

“Ibu guru, sedihku kurasa. Duduk di kelas 4 tidak melihat kelas baruku. Tidak langsung ku kenal mukata. Ku kenal saja namata. Ibu Nurhayati, yang jadi guruku di kelas 4 sekarang. Tidak ku berebut bangku depan. Tidak ku bermain sama teman. Tidak mi kupakai baju sekolah karena covid-19 ini,” kata Rafaat.

Jufri. Tenaga honorer di sebua sekolah dasar. Proses pembelajaran daring di era Covid-19 bukan hal mudah dilakukan. Pembelajaran dalam jaringan (daring) adalah model pendidikan yang tak pernah ia sangka digelar. Menggantikan pembelajaran tatap muka.

“Mungkin awalnya sekolah daring bisa cepat berlalu dan berjalan beberapa bulan saja. Tapi ternyata tidak. Orang tua murid mengeluh. Coba bayangkan tiga anaknya dia urus setiap hari untuk belajar online,” ujarnya.

Pembelajaran daring akhirnya berlangsung tidak maksimal, karena banyak siswa yang tidak memiliki sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Handphone-nya hanya satu unit tapi anaknya tiga yang mau pakai
handphone tersebut. Orang tua mengeluh katanya sudah capek mengajar anaknya,” ujarnya.

Beban tersebut tak hanya dirasakan oleh siswa dan orang tuanya, namun juga tenaga honorer. Jufri menceritakan, tenaga honorer kesulitan menggelar pembelajaran daring secara terus menerus yang juga membutuhkan biaya kuota internet. Namun, gaji tak memadai untuk menyediakan sarana pembelajaran daring.

“Guru honorer betul-betul merasakan dampaknya. Karena bertambahnya kebutuhan kuota. Bayangkan setiap hari ada 3 kelas. Dan zoom banyak menarik kuota. Ini beban berat honorer yang hanya digaji per 3 bulan,” ujarnya.

Sosok yang juga aktif dalam produser house pembuatan film itu juga mengeluhkan jika bantuan kuota yang diberikan oleh Pemerintah Pusat tidak cukup. Karena kuota tersebut hanya bisa digunakan untuk mengakses Zoom dan sejenisnya. Sementara pembelajaran daring memiliki banyak perangkat yang harus dipakai.

“Tapi kalau ada tugas dari guru tidak bisa digunakan maka orang tua keluarkan lagi dana,” ujarnya.

Jufri berharap pemerintah segera memerhatikan masalah ini, terlebih masa dengan guru honorer.

“Ada guru honorer dua tahun mengabdi belum terangkat, ada yang belum dua tahun sudah terangkat. Kalau pemerintah lihat pengabdiannya. Kalau honorer sudah berapa tahun mengabdi langsung diangkat. Akhirnya terakomodir yang mengabdi,” tandasnya. (*)

Comment